Laman

Kamis, 21 Juni 2012

kardio 2 faisal C A R D I A C A R R E S T


C A R D I A C
A R R E S T
PENDAHULUAN
WHO (2008) menerangkan bahwa penyakit jantung, bersama-sama dengan penyakit infeksi dan kanker masih tetap mendominasi peringkat teratas penyebab utama kematian di dunia. Serangan jantung dan problem seputarnya masih menjadi pembunuh nomor satu dengan raihan 29 % kematian global setiap tahun.
                Demikian halnya di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Nasional penyakit jantung bersama dengan penyakit infeksi merupakan penyebab kematian utama di Indonesia (Diklat Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118, 2010).
                Kematian jantung mendadak merupakan berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba pada seseorang yang telah atau belum diketahui menderita penyakit jantung. Waktu dan kejadiannya tidak diduga-duga, yakni segera setelah timbul keluhan.  Kejadian yang menyebabkan kematian mendadak terjadi ketika sistem kelistrikan jantung menjadi tidak berfungsi dengan baik, dan menghasilkan irama jantung yang tidak normal.

P E N G E R T I A N  (1)
Jameson, 2005

                Cardiac Arrest adalah penghentian sirkulasi normal darah akibat kegagalan jantung untuk berkontraksi secara efektif.
P E N G E R T I A N  (2)
American Heart, 2010
               
 Cardiac Arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan mendadak, bisa terjadi pada seseorang yang  memang didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun tidak. Waktu kejadiannya tidak bisa diperkirakan, terjadi dengan sangat cepat dengan gejala maupun tanpa gejala

ETIOLOGI
                Penyebab cardiac arrest yang paling umum adalah gangguan listrik di dalam jantung. Jantung memiliki sistem konduksi listrik yang mengontrol irama jantung tetap normal. Masalah dengan sistem konduksi dapat menyebabkan irama jantung yang abnormal, disebut aritmia.
                Terdapat banyak tipe dari aritmia, antara lain :
  1. Jantung dapat berdetak terlalu cepat
  2. Jantung berdetak terlalu lambat, atau
  3. Jantung berhenti berdetak.
                Ketika aritmia terjadi, jantung memompa sedikit atau bahkan tidak ada darah ke dalam sirkulasi.

FAKTOR PREDISPOSISI : ada 6
                Menurut American Heart Association (2010), sesorang dikatakan mempunyai risiko tinggi untuk terkena Cardiac Arrest dengan kondisi :
  1. Ada jejas di jantung akibat serangan jantung terdahulu
  2. Penebalan otot jantung (Cardiomyopathy)
  3. Seseorang yang sedang menggunakan obat-obatan untuk jantung
  4. Kelistrikan jantung yang tidak normal
  5. Pembuluh darah yang tidak normal
  6. Penyalahgunaan obat

ADA JEJAS DI JANTUNG AKIBAT SERANGAN JANTUNG TERDAHULU :
                Jantung yang terjejas akan mengalami pembesaran karena sebab tertentu cenderung untuk mengalami aritmia ventrikel yang mengancam jiwa.
                Enam bulan pertama setelah seseorang mengalami serangan jantung adalah Periode Risiko tinggi terjadinya cardiac arrest pada pasien dengan penyakit jantung.

PENEBALAN OTOT JANTUNG (CARDIOMYOPATHY):
                Umumnya karena berbagai sebab (tekanan darah tinggi, kelainan katub jantung) membuat seseorang cenderung untuk terkena cardiac arrest.


SEDANG MENGGUNAKAN OBAT-OBATAN JANTUNG:
                Karena beberapa kondisi tertentu beberapa obat-obatan untuk jantung justru merangsang timbulnya aritmia ventrikel dan berakibat cardiac arrest, kondisi seperti ini disebut proarrythmic effect.

KELISTRIKAN JANTUNG YANG TIDAK NORMAL:
v  Sindrom Wolff-Parkinson-White.
v  Sindrom Q-T yang memanjang

PEMBULUH DARAH YANG TIDAK NORMAL :
                Khususnya di arteri koronari dan aorta sering menyebabkan kematian mendadak pada dewasa muda, pelepasan adrenalin ketika berolah raga atau melakukan aktifitas fisik yang berat bisa menjadi pemicu terjadinya cardiac arrest.

PENYALAHGUNAAN OBAT :
                Penyalahgunaan  obat adalah salah satu faktor penyebab terjadinya cardiac arrest pada penderita yang sebenarnya tidak mempunyai kelainan pada organ jantung.

TANDA-TANDA CARDIAC ARREST :
Diklat Ambulans Gawat Darurat 118
(2010
                               
  1. Ketiadaan respon; pasien tidak berespon terhadap rangsangan suara, tepukan di pundak ataupun cubitan.
  1. Ketiadaan pernafasan normal; tidak terdapat pernafasan normal ketika jalan pernafasan dibuka.
  2. Tidak terabanya denyut nadi; di arteri besar (karotis, femoralis, radialis).

PROSES TERJADINYA CARDIAC ARREST :
  1. Fibrilasi Ventrikel (VF) 
Merupakan kasus cardiac arrest terbanyak yang sering menimbulkan kematian mendadak. Pada keadaan ini jantung tidak dapat melakukan fungsi kontraksinya, jantung hanya mampu bergetar saja.
                                Pada kasus ini tindakan yang harus segera dilakukan adalah DC shock dan CPR.
  1. Takhikardi Ventrikel (VT) 
Mekanisme penyebab terjadinya takhikardi ventrikel biasanya karena adanya gangguan otomatisasi (pembentukan impuls) ataupun akibat adanya gangguan konduksi. Frekuensi nadi yang cepat akan menyebabkan fase pengisian ventrikel kiri akan memendek, akibatnya pengisian darah ke ventrikel juga berkurang sehingga curah jantung akan menurun.
                                Pada kasus ini tindakan yang harus segera dilakukan adalah DC shock dan CPR.
  1. Pulseless Electrical Activity (PEA) 
PEA atau aktifitas listrik tanpa nadi merupakan keadaan dimana aktifitas listrik jantung tidak menghasilkan kontraktilitas atau menghasilkan kontraktilitas tetapi tidak adekuat sehingga tekanan darah tidak dapat diukur dan nadi tidak teraba.
                                Pada kasus ini CPR adalah tindakan yang harus segera dilakukan.
  1. Asistole  
Keadaan ini ditandai dengan tidak terdapatnya aktifitas listrik pada jantung, dan pada monitor irama yang terbentuk adalah seperti garis lurus.
                                Pada kondisi ini tindakan yang harus segera diambil adalah CPR.
                               
PROGNOSIS CARDIAC ARREST
                Kematian otak dan kematian permanen dapat terjadi hanya dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit dari seseorang tersebut mengalami cardiac arrest (Diklat Ambulans Gawat Darurat, 2010).
                Kondisi tersebut dapat dicegah dengan pemberian CPR (resusitasi jantung paru) dan defibrilasi (DC shock) segera untuk mengembalikan fungsi jantung normal.
                CPR dan defibrilasi yang diberikan antara 5 sampai 7 menit dari korban mengalami henti jantung, akan memberikan kesempatan korban untuk hidup rata-rata sebesar 30% sampai 45% (American Heart Association, 2010).

ASUHAN KEPERAWATAN CARDIAC ARREST
PENGKAJIAN:
                Umumnya data yang diperoleh pada saat pengkajian yaitu Data Obyektif, antara lain :
  1. Warna kulit pucat
  2. Kulit dingin
  3. CRT > 2 detik
  4. Sianosis kuku & bibir
  5. Terlihat distress pernafasan
  6. Tekanan darah tidak ada
  7. Nadi perifer tidak teraba

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
  1. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan penurunan suplai O2 ke otak.
  1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan suplai O2 tidak adekuat.
  1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kemampuan pompa jantung menurun.

INTERVENSI KEPERAWATAN :
1.       Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan penurunan suplai O2 ke otak.
a.       Berikan vasodilator misal nitrogliserin, nifedipin sesuai indikasi
b.      Posisikan kaki lebih tinggi dari jantung
c.       Pantau adanya pucat, sianosis dan kulit dingin atau lembab
d.      Pantau pengisian kapiler (CRT)
2.       Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan suplai O2 tidak adekuat.
a.       Berikan O2 sesuai indikasi
b.      Pantau GDA pasien
c.       Pantau pernapasan klien
3.       Penurunan curah jantung berhubungan dengan kemampuan pompa jantung menurun.
a.       Lakukan pijat jantung
b.      Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai indikasi
c.       Palpasi nadi perifer
d.      Pantau tekanan darah
e.      Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar