Materi Pertemuan
Pertama Kardiovaskular II
Oleh : Pak Askar
Tujuan pemeriksaan lab klinis
- Menegakkan diagnosis
- Melakukan kontrol terhadap resiko tinggi
- Menentukan prognosis penyakit jantung
- Mengkaji derajat proses radang
- Mengkaji kadar serum obat
- Mengkaji efek pengobatan, seperti efek diuretik
- Menetapkan data dasar klien sebelum intervensi
- Skrining terhadap setiap abnormalitas
- Menentukan hal yang dapat mempengaruhi upaya intervensi, mis DM, ketidakseimbangan elektrolit
Hitung Jenis Darah Lengkap
— Eritrosit
— Hematokrit
— Hemoglobin
— Leukosit
— Bila
terdapat nilai abnormal, artinya terdapat gangguan kesehatan pada tubuh klien
Kadar Elektrolit Serum
— Elektrolit
serum mempengaruhi prognosis klien dengan gangguan serebral pada kondisi apapun
— Natrium
serum mencerminkan keseimbangan cairan
— Hiponatremia
à
kelebihan cairan
— Hipernatremia
à
kekurangan cairan
— Kalsium
sangat penting untuk koagulasi darah dan aktivitas neuromuskuler
Kalium Serum
— Dipengaruhi
oleh fungsi ginjal
— Dapat
menurun akibat bahan diuretika yang sering digunakan untuk merawat gagal
jantung kongestif
— Hipokalemia
dan hiperkalemia dapat mengakibatkan fibrilasi ventrikel dan henti jantung
Masa Perdarahan
— Nilai
normal berkisar 2 – 9 ½ menit
— Masa
perdarahan memanjang memberikan makna klinis pada trombositopenia, terapi
antikoagulan, dan uremia
Masa Pembekuan
— Penilaian
mekanisme pembekuan (waktu yang diperlukan darah untuk memadatkan bekuan)
— Waktu
normalnya 6 – 12 menit dan memanjang pada defisiensi faktor pembekuan yang
berat, terapi antikoagulan yang berlebihan, serta memendek pada terapi
kortikosteroid
Protrombin Time (PT)
— Penilaian
jalan pembekuan secara ekstrinsik (proses pembekuan bisa dengan jalan/jalur
instrinsik dan ekstrinsik).
— Normalnya
11 – 16 menit, memanjang pada defisiensi faktor VII, X, fibrinogen, penyakit
hati yang berat; DIC (Disseminated
Intravascular Coagulation) dan defisiensi vitamin K.
Profil Lemak
— Kolesterol
total, trigliserida, dan lipoprotein diukur untuk mengevaluasi risiko
aterosklerosis
— Khususnya
bila ada riwayat keluarga dengan aterosklerosis yang positif atau untuk
mendiagnosis abnormalitas lipoprotein tertentu
— Kolesterol
serum total yang meningkat di atas 200 mg/ml merupakan indikasi peningkatan
risiko penyakit jantung coroner
Kolesterol
— Kolesterol
adalah steroid dan disintesis pada banyak jaringan, terutama dalam hati dan
dinding intestinal
— Rata-rata
¾ kolesterol disintesis dan ¼ nya berasal dari asupan makanan
— Penetapan
nilai kolesterol digunakan untuk skrining terhadap risiko aterosklerosis, serta
penanganan gangguan yang meliputi peningkatan kadar kolesterol, gangguan
metabolisme lipid, dan lipoprotein
— Penilaian
kadar kolesterol normal adalah < 200 mg/dl
— Batas
borderline tinggi 200 – 239 mg/dl
— Dan
kadar kolesterol tinggi adalah > 240 mg/dl
Kolesterol LDL dan HDL
— Low Density Lipoprotein adalah
lipoprotein utama pengangkut kolesterol dalam darah yang terlibat dalam proses
terjadinya penyakit jantung koroner
— LDL
adalah kolesterol, asam lemak, fosfolipid, dan isoprostan teroksidasi.
— Lipoprotein
yang mengangkut kolesterol dalam darah dapat dianalisis melalui elektroforesis
— Penurunan
kadar lipoprotein densitas tinggi dan peningkatan lipoprotein densitas rendah
akan meningkatkan risiko penyakit arteri koronaria aterosklerosis
Nitrogen Urea Darah
— Nitrogen
urea darah (BUN) adalah produk akhir metabolisme protein dan diekskresikan oleh
ginjal
— Pada
klien jantung, peningkatan BUN dapat mencerminkan penurunan perfusi ginjal
karena penurunan curah jantung atau kekurangan volume cairan intravaskular
akibat terapi diuretika
Enzim Jantung
— Analisis
enzim jantung dalam plasma merupakan bagian dari profil diagnostik yang
meliputi riwayat, gejala, dan elektrokardiogram untuk mendiagnosis infark
miokardium
— Enzim
dilepaskan dari sel bila sel mengalami cedera dan membrannya pecah
— Kebanyakan
enzim tidak spesifik dalam hubungannya dengan organ tertentu yang rusak
— Enzim
CK-MB tidak terlalu spesifik untuk otot jantung
— Troponin
T (cTnT) dan troponin I (cTnI) merupakan indikator yang sensitif dan spesifik untuk infark
miokardium (MI)
— Dapat
juga digunakan untuk stratifikasi risiko penderita ACS (Acute coronary syndrome)
— Parameter
biokimiawi berperan sebagai :
— Penunjang
diagnosis MI
— Infarct
sizing
— Stratifikasi
risiko
— Pemantauan
reperfusi
— Continum
ACS dari koyaknya plak
— Adanya
inflamasi maupun iskemia
— Manifestasi
klinis berupa angina dan infark miokardium
Laktat Dehidrogenase
— Laktat
dehidrogenase (LDH) dan isoenzimnya terdapat lima macam (LD1 – LD5)
— Masing-masing
mempunyai berat molekul sekitar 134.000 kDa yang mengandung kombinasi sub-unit
H dan M
— Jantung
mengandung lebih banyak LD1, sedangkan hati dan otot mengandung LD5
— Pemeriksaan
LD isoenzim dilakukan dengan cara elektroforesis
— Pada
infark miokardium akut, kadar LD1 melebihi kadar LD2, sedangkan dalam keadaan
normal kadar LD1 lebih rendah dibandingkan LD2
— Metode
lain untuk pemeriksaan LD1 digunakan inhibisi imuno dan kimiawi dengan
menggunakan antibodi terhadap sub unit M
— Belakangan
ini pemeriksaan LD isoenzim sudah jarang digunakan
Kreatinin Kinase
— Kreatinin
kinase (CK) dan isoenzimnya (CKMB) adalah enzim yang berguna untuk mendiagnosis
infark jantung akut dan merupakan enzim pertama yang meningkat
Nilai Rujukan Kreatinin Kinase
— DEWASA
- Pria : 5 – 35 µg/ml, 30 – 180 IU/l, 55 – 170 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)
- Wanita : 5 – 25 µg/ml, 25 – 150 IU/l, 30 – 135 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)
ANAK
- Neonatus : 65 – 580 IU/l pada suhu 30oC,
- Anak laki-laki : 0 – 70 IU/l pada suhu 30oC,
- Anak perempuan : 0 – 50 IU/l pada suhu 30oC
- Pria : 5 – 35 µg/ml, 30 – 180 IU/l, 55 – 170 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)
- Wanita : 5 – 25 µg/ml, 25 – 150 IU/l, 30 – 135 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)
ANAK
- Neonatus : 65 – 580 IU/l pada suhu 30oC,
- Anak laki-laki : 0 – 70 IU/l pada suhu 30oC,
- Anak perempuan : 0 – 50 IU/l pada suhu 30oC
Troponin T & I (cTnT & CTnI)
— Troponin
adalah protein spesifik yang ditemukan dalam otot jantung dan otot rangka.
— Bersama
dengan tropomiosin, troponin mengatur kontraksi otot.
— Kontraksi
otot terjadi karena pergerakan molekul miosin di sepanjang filamen aktin
intrasel.
Troponin terdiri dari tiga polipeptida :
— Troponin
C (TnC) dengan berat molekul 18.000
dalton, berfungsi mengikat dan mendeteksi ion kalsium yang mengatur kontraksi.
— Troponin
T (TnT) dengan berat molekul 24.000
dalton, suatu komponen inhibitorik yang berfungsi mengikat aktin.
— Troponin
I (TnI) dengan berat molekul 37.000
dalton yang berfungsi mengikat tropomiosin.
Dari
tiga polipeptida tersebut, hanya bentuk troponin I (cTnI) dan troponin T (cTnT)
yang ditemukan di dalam sel-sel miokardium, tidak pada jenis otot lain.
— cTnI
dan cTnT dikeluarkan ke dalam sirkulasi setelah cedera miokardium.
— Sel-sel
otot rangka mensintesis molekul troponin yang secara antigenis berbeda dengan
troponin jantung.
— Pertama,
pada kerusakan awal beberapa troponin jantung dengan cepat keluar dari sel-sel
miokardium dan masuk ke dalam sirkulasi bersama dengan CK-MB dan memuncak
pada 4-8 jam.
— Kedua,
troponin jantung juga dibebaskan dari aparatus kontraktil intrasel.
— Pelepasan
troponin yang berkelanjutan ini memberikan informasi yang setara dengan yang
diberikan oleh isoenzim laktatdehidrogenase (LDH) untuk diagnosis
konfirmatorik infark miokardium sampai beberapa hari setelah kejadian akutnya.
— Troponin
adalah tes yang lebih spesifik untuk serangan jantung daripada tes lainnya
(yang mungkin menjadi positif pada cedera otot rangka) dan tetap tinggi untuk
jangka waktu beberapa hari setelah serangan jantung.
— Menurut
Kosasih (2008), nilai rujukan untuk Troponin I (metode immunoassay) :
— Nilai
antara 0,04 dan 0,1 ng/mL diinterpretasikan sebagai tak pasti
— Nilai
di atas o,1 ng/mL diinterpretasikan sebagai nekrosis sebagian sel otot jantung
— Pada
operasi jantung dan takikardia yang berlangsung lama, nilai dapat sedikit lebih
tinggi
— Pada
orang normal nilai kurang dari kurang dari 0,2 ng/mL
C - reactive protein
— C-reactive
protein merupakan anggota dari protein pentraxin
— Istilah
CRP dikenalkan oleh Tillet dan Francil pada tahun 1930, karena senyawa ini
dapat bereaksi dengan polisakarida C somatik dari Streptococcus pneumonia.
— Kadarnya
akan meningkat 100x dalam 24 – 48 jam setelah terjadi luka jaringan
— Sebelas
tahun kemudian, Mac Leod don Avery mengenalkan istilah “fase akut” pada serum
penderita infeksi akut untuk menunjukkan sifat CRP.
— Kushner
dan Feldman menemukannya dalam hepatosit
— 24
– 38 jam setelah sel dirangsang oleh senyawa inflamasi.
— CRP
disintesis dan disekresi oleh hati sebagai respons terhadap sitokin, terutama
IL-6
— Sitokin
dihasilkan terutama oleh monosit/makrofag juga oleh leukosit lain atau sel
endotel.
— Pada
kultur sel hepatoma, ditemukan IL-6 sebagai penginduksi utama untuk transkripsi
mRNA CRP.
— IL-1
sendiri tidak aktif, tetapi sinergis dengan IL-6
— Promoter
gene CRP terdiri atas dua acute phase
response elements (APRE)
— APRE
2 mengandung NF-IL-6 bindingsite yang
merupakan faktor transkripsi yang diinduksi oleh IL-6 dan diaktivasi oleh
protein kinase C (PKC)-dependent
phosphorylation
— Sitokin
lain seperti IL-11, TNF-α
dan transforming growth factor (TGF-β) juga berperan dalam
sintesis CRP
— CRP
juga berfungsi dalam pembersihan dan penyimpanan LDL pada jaringan
— Hal
ini dimungkinkan karena adanya ikatan CRP dengan beberapa struktur lipid,
seperti liposom dan lipoprotein
— Saat
CRP membentuk agregat pada fase solid dalam jumlah yang cukup
— CRP
bergabung ke dalam LDL dan sebagian kecil ke dalam VLDL 19
— Fibronektin
dan laminin adalah senyawa yang menjadi target CRP yang selanjutnya ikut serta
dalam perbaikan jaringan dan perlekatan leukosit pada jaringan yang rusak
— Peningkatan
kadar CRP bersifat nonspesifik, tetapi merupakan pertanda respons fase akut
yang sensitif terhadap senyawa infeksius, stimulus imunologis, kerusakan jaringan,
dan inflamasi akut lainnya.
— Peningkatan
kadar CRP yang menetap terjadi pada inflamasi kronis, meliputi penyakit
autoimun dan malignansi
— Inflamasi
kronis merupakan komponen yang penting dalam perkembangan terjadinya
aterosklerosis
— Kadar
CRP berhubungan juga dengan disfungsi endotel
Nilai Rujukan CRP
— Jika
konsentrasi hsCRP < 1,0 mg/L, maka risiko terkena PJK rendah
— Jika
konsentrasi hsCRP 1,0- 3,0 mg/L, maka
risiko terkena PJK rata-rata (moderate)
— Jika
konsentrasi hsCRP > 3,0 mg/L (tetapi < 10 mg/L), maka risiko terkena PJK
tinggi
Analisis Gas Darah
— Gangguan
asam basa paling mudah dinyatakan menurut teknik astrup
— Karena
dengan sedikit darah dapat diketahui pH secara cepat dan tepat
— Dengan
menggunakan normogram dari Sigaard Anderson, dapat diketahui secara tidak
langsung base excess dan
bikarbonat
— pH
darah diukur secara langsung menggunakan pH meter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar