Pak Askar
Pemeriksaan Laboratorium terkait
Sistem Kardiovaskuler
Hitung
Jenis Darah Lengkap
— Eritrosit
— Hematokrit
— Hemoglobin
— Leukosit
— Bila terdapat nilai abnormal, artinya terdapat gangguan kesehatan pada
tubuh klien
Kadar
Elektrolit Serum
— Natrium serum mencerminkan keseimbangan cairan
— Hiponatremia à
kelebihan cairan
— Hipernatremia à
kekurangan cairan
— Kalsium sangat penting untuk koagulasi darah dan aktivitas neuromuskuler
Kalium
Serum
— Dipengaruhi oleh fungsi ginjal
— Dapat menurun akibat bahan diuretika yang sering digunakan untuk merawat
gagal jantung kongestif
— Hipokalemia dan hiperkalemia dapat mengakibatkan fibrilasi ventrikel dan
henti jantung
Masa
Perdarahan
— Keadaan vaskular, jumlah, dan fungsi trombosit
— Nilai normal berkisar 2 – 9 ½ menit
— Masa perdarahan memanjang memberikan makna klinis pada trombositopenia,
terapi antikoagulan, dan uremia
Masa
Pembekuan
— Waktu normalnya 6 – 12 menit dan memanjang pada defisiensi faktor
pembekuan yang berat, terapi antikoagulan yang berlebihan, serta memendek pada terapi
kortikosteroid
Protrombin
Time (PT)
— Normalnya 11 – 16 menit, memanjang pada defisiensi faktor VII, X,
fibrinogen, penyakit hati yang berat; DIC (Disseminated Intravascular
Coagulation) dan defisiensi vitamin K.
APTT
(Activated Partial Trhomboplastin Time)
— Penilaian jalan pembekuan secara intrinsik
— Normalnya 26 – 42 menit
— Memanjang pada defisiensi faktor VIII – XII dan fibrinogen, penyakit hati
yang berat, DIC, serta defisiensi vitamin K
Profil
Lemak
— Kolesterol total, trigliserida, dan lipoprotein diukur untuk mengevaluasi
risiko aterosklerosis
— Kolesterol serum total yang meningkat di atas 200 mg/ml merupakan
indikasi peningkatan risiko penyakit jantung coroner
Kolesterol
— Kolesterol adalah steroid dan disintesis pada banyak jaringan, terutama
dalam hati dan dinding intestinal
— Rata-rata ¾ kolesterol disintesis dan ¼ nya berasal dari asupan makanan
— Penetapan nilai kolesterol digunakan untuk skrining terhadap risiko
aterosklerosis, serta penanganan gangguan yang meliputi peningkatan kadar kolesterol,
gangguan metabolisme lipid, dan lipoprotein
— Analisis kolesterol pertamakali dilaporkan oleh Liebermann pada tahun
1885, diikuti oleh Burchard pada tahun 1889
— Penilaian kadar kolesterol normal adalah < 200 mg/dl
— Batas borderline tinggi 200 – 239 mg/dl
— Dan kadar kolesterol tinggi adalah > 240 mg/dl
Kolesterol
LDL dan HDL
— Low Density Lipoprotein adalah lipoprotein utama
pengangkut kolesterol dalam darah yang terlibat dalam proses terjadinya
penyakit jantung koroner
— LDL menjadi aterogenik setelah mengalami proses modifikasi, yaitu melalui
proses oksidasi.
— Pada lesi aterosklerosis, selain ditemukan produk dari hidroperoksida,
juga ditemukan lipid yang terbentuk pada proses peroksidasi
— LDL adalah kolesterol, asam lemak, fosfolipid, dan isoprostan teroksidasi.
— Oksidasi LDL memainkan peranan penting pada patogenesis aterosklerosis
— Ox-LDL dapat :
— meningkatkan sintesis dan sekresi molekul-molekul adhesi dari sel-sel
endogen,
— kemotaksis untuk monosit dalam sirkulasi,
— sitotoksis terhadap sel endotel dan sel otot polos,
— Menstimulasi pelepasan antibodi pertumbuhan dan sitokin
— Imunogenik melalui induksi produksi antibodi terhadap ox-LDL
— Ox-LDL dapat :
— Menginduksi agregasi trombosit
— Menurunkan kemampuan antikoagulan dan fibrinolitik pada endotel
— Memengaruhi ketidakstabilan plak dengan peningkatan ekspresi
metalloproteinase
— Lipoprotein yang mengangkut kolesterol dalam darah dapat dianalisis
melalui elektroforesis
— Lipoprotein densitas tinggi (HDL) yang membawa kolesterol dari sel
perifer dan mengangkutnya ke hepar bersifat protektif
— Sebaliknya, lipoprotein densitas rendah (LDL) mengangkut kolesterol ke
sel perifer
— Penurunan kadar lipoprotein densitas tinggi dan peningkatan lipoprotein
densitas rendah akan meningkatkan risiko penyakit arteri koronaria
aterosklerosis
— Meskipun nilai kolesterol total relatif stabil sampai 24 jam, namun
pengukuran lemak total harus dilakukan setelah puasa 24 jam
Nitrogen
Urea Darah
— Nitrogen urea darah (BUN) adalah produk akhir metabolisme protein dan
diekskresikan oleh ginjal
Glukosa
— Glukosa serum harus dipantau, karena kebanyakan klien jantung juga
menderita diabetes melitus
— Glukosa serum sedikit meningkat pada keadaan stres akibat mobilisasi
epinefrin endogen yang menyebabkan konversi glikogen hepar menjadi glukosa
Enzim
Jantung
— Analisis enzim jantung dalam plasma merupakan bagian dari profil
diagnostik yang meliputi riwayat, gejala, dan elektrokardiogram untuk
mendiagnosis infark miokardium
— Enzim dilepaskan dari sel bila sel mengalami cedera dan membrannya pecah
— Kebanyakan enzim tidak spesifik dalam hubungannya dengan organ tertentu
yang rusak
— Enzim CK-MB tidak terlalu spesifik untuk otot jantung
— Troponin T (cTnT) dan troponin I (cTnI) merupakan indikator yang sensitif dan spesifik untuk infark
miokardium (MI)
— Dapat juga digunakan untuk stratifikasi risiko penderita ACS (Acute
coronary syndrome)
— Parameter biokimiawi berperan
sebagai :
— Penunjang diagnosis MI
— Infarct sizing
— Stratifikasi risiko
— Pemantauan reperfusi
— Continum ACS dari koyaknya plak
— Adanya inflamasi maupun iskemia
— Manifestasi klinis berupa angina dan infark miokardium
Laktat
Dehidrogenase
— Laktat dehidrogenase (LDH) dan isoenzimnya terdapat lima macam (LD1 –
LD5)
— Masing-masing mempunyai berat molekul sekitar 134.000 kDa yang mengandung
kombinasi sub-unit H dan M
— Jantung mengandung lebih banyak LD1, sedangkan hati dan otot mengandung
LD5
— Pemeriksaan LD isoenzim dilakukan dengan cara elektroforesis
— Pada infark miokardium akut, kadar LD1 melebihi kadar LD2, sedangkan
dalam keadaan normal kadar LD1 lebih rendah dibandingkan LD2
— Metode lain untuk pemeriksaan LD1 digunakan inhibisi imuno dan kimiawi
dengan menggunakan antibodi terhadap sub unit M
— Belakangan ini pemeriksaan LD isoenzim sudah jarang digunakan
Kreatinin
Kinase
— Kreatinin kinase (CK) dan isoenzimnya (CKMB) adalah enzim yang berguna
untuk mendiagnosis infark jantung akut dan merupakan enzim pertama yang
meningkat
Nilai
Rujukan Kreatinin Kinase
— DEWASA
- Pria : 5 – 35 µg/ml, 30 – 180 IU/l, 55 – 170 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)
- Wanita : 5 – 25 µg/ml, 25 – 150 IU/l, 30 – 135 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)
ANAK
- Neonatus : 65 – 580 IU/l pada suhu 30oC,
- Anak laki-laki : 0 – 70 IU/l pada suhu 30oC,
- Anak perempuan : 0 – 50 IU/l pada suhu 30oC
- Pria : 5 – 35 µg/ml, 30 – 180 IU/l, 55 – 170 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)
- Wanita : 5 – 25 µg/ml, 25 – 150 IU/l, 30 – 135 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)
ANAK
- Neonatus : 65 – 580 IU/l pada suhu 30oC,
- Anak laki-laki : 0 – 70 IU/l pada suhu 30oC,
- Anak perempuan : 0 – 50 IU/l pada suhu 30oC
Troponin
T & I (cTnT & CTnI)
— Troponin adalah protein spesifik yang ditemukan dalam otot jantung dan
otot rangka.
— Bersama dengan tropomiosin, troponin mengatur kontraksi otot.
— Kontraksi otot terjadi karena pergerakan molekul miosin di sepanjang
filamen aktin intrasel.
Troponin
terdiri dari tiga polipeptida :
Troponin
adalah tes yang lebih spesifik untuk serangan jantung daripada tes lainnya
(yang mungkin menjadi positif pada cedera otot rangka) dan tetap tinggi untuk
jangka waktu beberapa hari setelah serangan jantung.
— Troponin C (TnC) dengan berat molekul 18.000 dalton, berfungsi mengikat dan
mendeteksi ion kalsium yang mengatur kontraksi.
— Troponin T (TnT) dengan berat molekul 24.000 dalton, suatu komponen inhibitorik
yang berfungsi mengikat aktin.
— Troponin I (TnI) dengan berat molekul 37.000 dalton yang berfungsi mengikat
tropomiosin.
Dari
tiga polipeptida tersebut, hanya bentuk troponin I (cTnI) dan troponin T (cTnT)
yang ditemukan di dalam sel-sel miokardium, tidak pada jenis otot lain.
C-Reactive
Protein
— C-reactive protein merupakan anggota dari protein pentraxin
— Istilah CRP dikenalkan oleh Tillet dan Francil pada tahun 1930, karena
senyawa ini dapat bereaksi dengan polisakarida C somatik dari Streptococcus
pneumonia.
— Kadarnya akan meningkat 100x dalam 24 – 48 jam setelah terjadi luka
jaringan
— Sebelas tahun kemudian, Mac Leod don Avery mengenalkan istilah “fase
akut” pada serum penderita infeksi akut untuk menunjukkan sifat CRP.
— Kushner dan Feldman menemukannya dalam hepatosit
— 24 – 38 jam setelah sel dirangsang oleh senyawa inflamasi.
— CRP disintesis dan disekresi oleh hati sebagai respons terhadap sitokin,
terutama IL-6. Sitokin dihasilkan terutama oleh monosit/makrofag juga oleh
leukosit lain atau sel endotel.
— Secara historis, CRP dapat membentuk ikatan dengan polisakarida C dari
dinding sel Pneumococcus
— Adanya ion Ca dibutuhkan agar terjadi ikatan
— Setiap sub-unit CRP dapat mengikat 2 ion Ca yang menginduksi perubahan
konformasi alosterik CRP; sehingga terbentuklah ikatan dengan C-polisakarida
— Saat CRP membentuk agregat pada fase solid dalam jumlah yang cukup
— CRP bergabung ke dalam LDL dan sebagian kecil ke dalam VLDL 19
— Peningkatan kadar CRP yang menetap terjadi pada inflamasi kronis,
meliputi penyakit autoimun dan malignansi
Nilai Rujukan CRP
— Jika konsentrasi hsCRP < 1,0 mg/L, maka risiko terkena PJK rendah
— Jika konsentrasi hsCRP 1,0- 3,0
mg/L, maka risiko terkena PJK rata-rata (moderate)
— Jika konsentrasi hsCRP > 3,0 mg/L (tetapi < 10 mg/L), maka risiko
terkena PJK tinggi
Analisis Gas Darah
— Gangguan asam basa paling mudah dinyatakan menurut teknik astrup
— Karena dengan sedikit darah dapat diketahui pH secara cepat dan tepat
— Dengan menggunakan normogram dari Sigaard Anderson, dapat diketahui
secara tidak langsung base excess dan bikarbonat
— pH darah diukur secara langsung menggunakan pH meter
— Keadaan disebut asidosis bila pH di cairan ekstraseluler kurang dari 7,35
dan disebut alkalosis bila pH lebih dari 7,45
Pemeriksaan Radiografi terkait
Sistem Kardiovaskuler
Radiografi
ž Pemeriksaan radiografi meliputi :
1.
Foto rontgen toraks
2.
Flouroskopi
3.
Kateterisasi jantung
4.
Angiografi radioactive imaging
Foto
Toraks
ž Memberikan banyak informasi mengenai keadaan jantung dan paru-paru
ž Interpretasi foto toraks tidak mudah dilakukan
ž Memerlukan pengetahuan anatomi dan patologi
ž Perubahan radiologis dapat terlihat pada kongesti vena pulmonalis, edema
paru interstisial, dan edema paru alveolar
Fluoroskopi
ž Pemeriksaan fluoroskopi dapat memberikan gambaran visual jantung pada luminescent
x-ray screen
ž Pemeriksaan ini memperlihatkan denyutan jantung dan pembuluh darah serta
sangat tepat untuk mengkaji kontur jantung yang tidak normal
ž Fluoroskopi adalah alat yang tepat untuk penempatan dan pemasangan
elektroda pemacu intravena serta untuk membimbing pemasukan kateter pada
kateterisasi jantung
Angiografi
ž Kateterisasi jantung biasanya dilakukan bersama angiografi
ž Suatu teknik memasukkan media kontras ke dalam sistem pembuluh darah
untuk menggambarkan jantung dan pembuluh darah
ž Empat tempat yang paling sering digunakan untuk angiografi selektif
adalah aorta, arteri koronaria, serta sisi kanan dan kiri jantung.
Aortografi
ž Aortogram adalah angiografi yang menggambarkan lumen aorga dan arteri
utama yang muncul darinya
ž Kateter radiopak dimasukkan ke arteri brakial kanan/kiri atau arteri
femoralis kemudian di dorong ke aorta asendens dan diarahkan ke arteri
koronaria yang dituju dengan bantuan fluoroskopi
Kateterisasi
Jantung Kanan
ž Kateterisasi jantung kanan dilakukan dengan memasukkan kateter radiopak
vena antekubital atau femoral ke atrium kanan, ventrikel kanan, dan pembuluh
darah paru
ž Cara ini dilakukan dibawah pemantauan fluoroskopi
ž Tekanan dalam atrium kanan diukur dan dicatat, kemudian sampel darah
diambil untuk pengukuran hematokrit dan saturasi oksigen
ž Kateter kemudian didorong melalui katup triskupidalis
ž Selanjutnya uji yang sama dilakukan pada darah di ventrikel kanan
ž Akhirnya kateter dimasukkan lebih dalam lagi ke arteri paru (melalui
katup paru) sampai sampel kapiler dapat diambil kemudian tekanan kapiler (juga
dikenal sebagai tekanan bagi) diukur selanjutnya kateter ditarik
Kateterisasi
Jantung Kiri
ž Kateterisasi jantung kiri biasanya dilakukan dengan teknik kateterisasi
retrograd jantung kiri atau kateterisasi transeptal atrium kiri
ž Pada teknik retrograd, kateter dimasukkan ke arteri brakhialis kanan
(arteriotomi) kemudian didorong dibawah kontrol fluoroskopi ke aorta asendens
dan ke ventrikel kiri, atau kateter dapat dimasukkan secara perkutan melalui
tusukan arteri femoralis
ž Pada pendekatan transeptal, kateter dimasukkan melalui vena femoralis
(secara perkutan atau melalui diseksi vena safena magna) ke atrium kanan
ž Sebuah jarum panjang dimasukkan melalui kateter tadi dan digunakan untuk
menusuk septum yang memisahkan atrium kanan dan kiri
ž Jarum kemudian ditarik dan kateter didorong dengan bantuan fluoroskop ke
ventrikel kiri
ž Pada kedua teknik tersebut, kondisi klien dipantau dengan
elektrokardiogram
ž Kateterisasi jantung kiri paling sering dilakukan untuk mengevaluasi
fungsi otot ventrikel kiri dan katup mitral, aorta, atau kepatenan arteria
koronaria
ž Setelah kateterisasi, kateter dicabut secara perlahan
ž Pada pendekatan brakial, tempat diseksi ditutup dan dibalut
ž Pada tempat penusukan femoral, lakukan tekanan manual sampai perdarahan
berhenti
MRI
(Magnetic Resonance Imaging)
ž Pemeriksaan radionuklida sangat berguna untuk mendeteksi infark
miokardium, penurunan aliran darah miokardium, dan untuk mengevaluasi fungsi
ventrikel kiri
ž Radioisotop diinjeksikan secara intravena dan dilakukan pemindaian dengan
menggunakan kamera gama
ž Satu atau dua menit sebelum latihan berakhir, satu dosis talium-201
diinjeksikan ke infus intravena agar terdistribusi ke jantung
ž Gambar segera diambil dan diulang dua sampai empat jam
ž Meskipun kebanyakan pencitraan talium bersifat gambaran satu dimensi,
namun telah ada metode baru dengan tomografi emisi foton tunggal (SPECT = single
photon emission tomography) yang mampu memberikan gambaran tiga dimensi
ž Dengan SPECT, kamera bergerak mengitari klien memutar 180-360 derajat,
sehingga identifikasi daerah yang mengalami penurunan perfusi miokardium dapat
dikenali lebih tepat
ž Prosedur non-invasif yang digunakan di masa lalu terutama untuk
mempelajari disfungsi neurologis
PET (Positron Emission
Tomography)
ž PET digunakan untuk mendiagnosis disfungsi jantung
ž Untuk klien jantung, termasuk yang tidak bergejala, PET memberikan
informasi yang lebih spesifik mengenai perfusi miokardium dan viabilitasnya
dibanding TEE atau pemindaian talium
ž TEE sangat membantu untuk merencanakan jalannya perawatan, misalnya dalam
menentukan perlunya pembedahan tandur pintasan koroner (CABG) atau angioplasti
ž Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kepatenan pembuluh asli atau
hasil tandur dari sirkulasi kolateral
ž Klien yang menjalani pemindaian PET diberikan injeksi radioisotop
ž Kamera PET memberikan gambaran tiga dimensi yang sangat rinci mengenai
penyebaran senyawa tersebut
ž Viabilitas miokardium ditentukan dengan membandingkan besarnya
metabolisme glukosa dalam miokardium dengan besarnya aliran darah
ž Misalnya, jaringan iskemik namun masih aktif akan memperlihatkan
penurunan aliran darah dan peningkatan metabolisme
ž Untuk klien ini, maka revaskularisasi dengan pembedahan atau angioplasi
akan meningkatkan fungsi jantung
ž Pembatasan masukan makanan sebelum tes dilakukan berbeda-beda menurut
institusi yang menjalankannya,
ž Namun karena PET mengevaluasi metabolisme glukosa, maka kadar glukosa
darah klien harus dalam batas normal
ž Klien harus menghentikan kopi dan tembakau empat jam sebelum dilakukan
tes
ž Klien diyakinkan bahwa pajanan radiasi yang dikenakan sangat aman dan
masih dalam batas yang dapat diperiksa, seperti pada pemeriksaan dengan talium
ž Meskipun peralatan PET masih sangat mahal bagi kebanyakan institusi,
namun semakin banyak yang menggunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar